Eksistensi Danau Kaolin Sebagai Pariwisata Pasca Timah

  • Update Kamis, 1 Desember 2022
  • Opini
  • Dilihat : 200 kali

Belitung, 01-12-2022

Eksistensi Danau Kaolin Sebagai Pariwisata Pasca Timah

Oleh : Ridwan Ilmi

Mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung

Pariwisata memiliki potensi besar dalam pemulihan ekonomi nasional, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung dengan beragam destinasi wisata yang menjadi keunggulan untuk mewujudkan cita-cita pariwisata tanah air. Salah satu dari ragam destinasi wisatanya, yakni Danau Kaolin yang bertempat di Desa Nibung, Bangka Tengah. Danau Kaolin sebagaimana dikenal masyarakat setempat sebagai kulong/kolong atau galian bekas tambang timah menjadi genangan air yang luas dan indah.

Minggu (13/11/2022), suasana tempat wisata Danau Kaolin tampak ramai. Keindahan air biru dan didampingi warna hijau terpancar sehingga memukau mata bagi siapa saja yang melihatnya. Pemandangan bentang air, indahnya lingkungan menjadi penyejuk jiwa saat melepas penat ketika perjalanan jauh dan lokasi dengan spot poto ter-eksotis ini juga terpilih menjadi salah satu Destinasi Wisata Unik Terpopuler Versi API Award 2019. Dengan berbagai gelar yang disematkan itu, lalu bagaimana Danau Kaolin menjaga Eksistensinya sebagai pariwisata pasca timah.

Menurut Murphy (dalam Pitana, 2005:45) “Pariwisata adalah keseluruhan dari berbagai fokus-fokus (wisatawan, daerah, tujuan wisata, perjalanan, industry, dan lain-lain) yang merupakan asal dari perjalanan wisata dari satu tempat ke tempat wisata lain, sepanjang perjalanan tersebut tidak permanen. Kata wisata “tour” secara harfiah berarti perjalanan dimana pelaku kembali lagi ketempat asalnya, perjalanan sirkuler yang dimana memiliki jadwal perjalanan yang terencana dengan tujuan bersenang-senang, atau pendidikan.

Dalam kebudayaan masyarakat hadirnya pengembangan daerah pariwisata akan memberikan dampak positif dan negatif (James, 1987:138). Dampat positif adanya pengembangan industry pariwisata, yakni Membuka kesempatan kerja, menambah pemasuskan/pendapatan masyarakat setempat, membentuk pertumbuhan kebudayaan, menambah devisa Negara, dan menunjak pergerakan pengembangan daerah. Namun dampak negative, seperti pola hidup konsumtif, sikap individualistic, gaya westernisasi, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, nilai tradisional yang pudan dan lain sebagainya.

Dampak positif yang dirasakan dengan adanya pengembangan objek pariwisata pasca tambang (danau kaolin) adalah terdapat pengembangan lahan pasca tambang menjadi industry pariwisata, dibangunnya sarana-sarana fasilitas atau akses jalan menuju tempat objek wisata, galeri oleh-oleh, mainan anak-anak, tong sampah dibeberapa titik, gazebo, toilet, musholla, spot poto, pos keamanan, pusat music, dan lain-lain. Serta dalam perkembangannya banyak masyarakat yang masih melakukan kegiatan tambang, namun upaya yang dilakukan perangkat desa dalam membangun industry pariwisata berharap masyarakat beralih ke lapangan kerja yang fokus pada pengembangan pariwisata.

Pembangunan objek wisata danau kaolin pada tahun 2016 melalui sosial media objek wisata mulai banyak dikenal (booming). Awalnya dari karang taruna 2017, terdapat inisiatif membangun pariwisata di Desa melalui pemuda setempat yang mengharapkan kesuksesan. Dalam menyukseskan pariwisata ini terdapat berbagai dukungan melalui masyarakat dan instansi pemerintah, masyarakat mengenal potensi pariwisata danau kaolin mendukung dengan berperan aktif dalam menjaga keaslian danau kaolin yang memiliki keindahan yang menakjubkan ini, namun masyarakat yang kontra dengan adanya pembangunan ini melihat sebagai jalan kosong dalam memperoleh penghasilan. Padahal dana yang didapat untuk mengelola pariwisata yang berasal dari pengunjung maupun pemerintah pusat diperuntakan bagi pengembangan desa maupun sumber daya masyarakat setempat. Dalam menarik minat wisatawan juga terdapat rencana yang dilakukan yaitu mengadakan pameran UMKM (makanan oleh-oleh, kopi khas lada Nibung, dsb.) serta event local maupun nasional lainnya.

Seperti yang dikatakan oleh salah satu pengunjung objek wisata yaitu Khoirul Mukmin asal Palembang saat diwawancara, bahwa wisata pasca tambang ini dikenalnya melalui platform sosial media instagram maupun google maps. Pemuda berumur 24 tahun itu menyatakan bahwa tempat dan pemandangan objek wisata bagus, suasa mendukung atau sejuk, dan berharap pengembangan selanjutnya melalui support safety yang ditingkatkan didaerah sekitar kulong. Lena (36) yang merupakan warga Arundalem dengan keseharian IRT juga sepakat bahwa objek wisata bagus, indah, dan beliau merasa senang. Dengan banyaknya pengunjung, Fasilitas pendukung juga perlu ditingkatkan yakni toilet dan pagar pengaman area kulong karena terdapat anak kecil yang juga bersenang, menikmati pemandangan dan bermain.

Tentunya dengan berbagai strategi, dukungan dan upaya bersama oleh seluruh masyarakat, pemerintah, pengelola maupun pengunjung, objek wisata pasca tambang (Danau Kaolin) ini dapat berkembang dan dikenal oleh masyarakat nasional bahkan internasional.

 

Bagikan :
Form Komentar
Komentar Anda