Tari Topeng Cirebon, Tarian Adat yang Kaya Nilai Filosofis

10 September 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI 131


Tari topeng merupakan salah satu kesenian asli daerah Cirebon, Jawa Barat. Sesuai namanya tarian ini dimainkan dengan mengenakan topeng atau kedok sebagai aksesoris utama. Tari topeng tidak hanya menyuguhkan keindahan dalam gerak, namun juga sarat akan simbol-simbol penuh makna.


Simbol-simbol ini direpresentasikan dalam bentuk topeng, jumlah topeng, hingga jumlah gamelan pengiringnya. Makna yang disampaikan dalam tari topeng meliputi nilai kepemimpinan, cinta, dan kebijaksanaan yang disampaikan melalui media tari.


Selain Cirebon, daerah lain yang juga mengembangkan tari topeng adalah Subang, Indramayu, Majalengka, Jatibarang, hingga Brebes. Sampai saat ini masih belum diketahui pasti pencipta dari tarian ini. Pasalnya ada banyak versi cerita yang kerap dianggap sebagai asal usul tarian topeng.


Salah satu versi cerita yang paling terkenal adalah tari topeng dibuat pertama kali pada zaman Majapahit. Pasca runtuhnya kerajaan besar tersebut, tari topeng dipertahankan oleh Kesultanan Demak. Lalu menyebar ke wilayah Cirebon yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak.


Meski saat ini tari topeng menyebar di berbagai kalangan di Cirebon, namun awalnya tidak demikian. Tari topeng masih menjadi tarian eksklusif di dalam Keraton saja. Hingga suatu ketika raja-raja Cirebon tak memiliki dana memelihara semua kesenian Keraton.


Akibatnya para penari dan penabuh gamelan mencari sumber pendapatan di luar Keraton. Hingga akhirnya tarian ini menyebar menjadi kesenian rakyat hingga ke pelosok-pelosok Cirebon.
Setelah Islam masuk pada masa Sunan Gunung Jati, tepatnya pada 1470, Cirebon dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Kemudian tari topeng pun digunakan sebagai media untuk mengenalkan agama Islam bersama dengan seni pertunjukan lain.

 


Makna Filosofis Tari

Topeng
Setiap tarian topeng menggunakan jenis topeng yang berbeda-beda, setidaknya ada 5 jenis topeng yang umum dipentaskan dan dikenal dengan nama Panca Wanda, yakni topeng Kelana, Tumenggung, Rumyang, Samba, dan Panji.


Tiap detail dari tari topeng memiliki nilai filosofis tersendiri. Nilai filosofis tersebut bisa dilihat dari karakteristik topengnya, digambarkan melalui warna dari masing-masing topeng yang melambangkan siklus hidup manusia.
Misalnya, topeng panji yang memiliki wajah putih bersih memiliki makna suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Sedangkan topeng samba yang memiliki karakter anak-anak sebagai simbol keceriaan dan kelincahan.
Masa dewasa diwakili dengan topeng rumyang, gerakannya pun semakin mantap menunjukkan manusia yang mendekati kemapanan. Topeng temanggung menceritakan siklus kehidupan manusia yang telah menginjak masa kematangan dan kemapanan sempurna.


Sedangkan topeng kelana menggambarkan seseorang yang sedang marah. Biasanya, saat mengenakan topeng kelana gerakan yang akan dilakukan penari bercirikan gerak tubuh energik, lincah, dan bersemangat. Gerak tari topeng kelana menggambarkan seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah, dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.
Tari topeng Cirebon merupakan jenis tarian sakral yang membutuhkan ritual khusus sebelum mementaskannya. Menurut kepercayaan setempat, umumnya para penari akan melakukan puasa, pantang, hingga semedi sebelum melakukan tari topeng.


Bahkan sebelum melakukan pertunjukkan tari topeng, masyarakat percaya bahwa harus disediakan dua sesaji. Dalam sesaji yang pertama berisi bedak, sisir, dan cermin yang melambangkan perempuan. Sedangkan, sesaji yang kedua berisi cerutu dan rokok sebagai lambang lelaki. Ada juga bubur merah yang menjadi lambang manusia dan bubur putih sebagai lambang dunia atas.
Selain itu, tari topeng Cirebon tidak bisa dipisahkan dari gerakannya yang indah nan gemulai. Ciri khas tarian ini terletak pada gerakan tangan yang gemulai dengan diiringi musik gendang dan rebab yang mendominasi sepanjang pementasan.


Saat ini tari topeng tidak hanya dipentaskan dalam hajatan di kampung-kampung saja. Namun tarian ini telah eksis hingga panggung mancanegara, seperti Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.
Foto Cover: Atraksi Tari Topeng Panji. (Shutterstock/Misbachul Munir)

Form Komentar
Komentar Anda