PCR Penghalang Kunjungan Wisata ke Belitong.

  • Update Jumat, 29 Oktober 2021
  • Daerah
  • Dilihat : 989 kali

Tanjungpandan, 29-10-2021 | Sarwamedia.com

Semenjak dikenal dengan nama Pulau Laskar Pelangi, sektor usaha pariwisata berkembang pesat cukup banyak masyarakat yang mendirikan usaha yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

Mulai dari agen perjalanan.toko oleh-oleh hingga rumah makan, penginapan dan tempat hiburan Pulau Belitung mulai dikenal sektor wisata memang benar memberikankehidupan bagi pemerintah maupun masyarakat.

Namun itu dulu sebelum muncul yang namanya Covid. Saat ini sektor pariwisata Belitung mulai meredup bahkan bisa mati dengan munculnya berbagai aturan tentang pandemi khususnya terkait kebijakan RT-PCR.

Yang hukumnya wajib bagi penerbangan bagaimana tidak berat. Sehingga menambah cost jika ingin berkunjung ke Pulau Belitong sedangkan hanya pesawatlah kendaraan yang bisa menuju ke Belitong dengan cepat.

Karena biaya yang dibeban bertambah mahal dengan munculnya kebijakan yang mewajibkan penumpang penerbangan udara tunjukan hasil negatif RT-PCR sebagai syarat penerbangan. Banyak wisatawan yang membatalkan kedatangannya ke Belitung. Hal inilah yang saat ini menjadi keluhan bagi para pelaku wisata.

Keluhan tersebut terucap berawal dari beberapa waktu lalu, munculnya surat edaran  terbaru dari Gubernur Bangka Belitung yang mengikuti Instruksi dari Menteri Dalam Negeri yang mewajibkan penumpang menunjukan hasil negatif dari RT – PCR jika melakukan penerbangan udara baik dari dan ke Jawa-Bali maupun luar wilayah Jawa-Bali.

Dengan adanya kebijakan tersebut, banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke Belitung. Bahkan tidak sedikit yang membatalkan keberangkatan walau sudah terjadwal pada jauh sebelumnya.

Travel Amj Tour Belitung Loise Chen mengatakan rencananya, awal November mendatang pihaknya akan kedatangan wisatawan yang berjumlah sekitar 20an orang bersama keluarganya

Namun, setelah mendapatkan informasi terkait harus menggunakan RT-PCR tersebut, 20 hingga 25 tamunya itu lebih memilih untuk membatalkan jadwal mereka.karena beban biaya bertambah besar Loise Chen menjabarkan tingginya nilai rupiah dari RT-PCR merupakan penyebab pembatalan tersebut.

Mereka (Tamu) membatalkan rencana penerbangan ke Belitung karena terkendala cost yang tinggi akibat harus menggunakan tes RT-PCR jadi mereka memilih untuk menunda dulu. Kebanyakan dari tamu ini merupakan keluarga, family gathering lah kebanyakan,” ujar Loise Chen kepada awak media.

Bayangkan saja untuk satu orang PP (pulang pergi) mereka harus menyiapkan 1 juta rupiah. Ini mereka ada 20 orang, jadi harus menyiapkan 20juta rupiah untuk tes PCR itu,” tambah Loise.

Ketua Komunitas YouTubers Belitong ini juga mengatakan, menurutnya kemarin para pelaku pariwisata sempat bernafas lega beberapa pekan terakhir saat syarat penerbangan hanya menunjukan tes antigen saja.

Namun saat ini, mereka kembali harus kesulitan akibat penerap tes RT-PCR, dan tidak sedikit dari mereka yang harus mencari rupiah dari luar industri pariwisata lagi.

“PCR menurut aku bagus, namun budget PCR sangat memberatkan tamu, kecuali harga PCR bisa mengikuti harga dari tes antigen,” kata Lois

keluhan juga datang dari pihak sopir bandara. Kepada Sarwa Firdaus mengeluhkan juga munculnya kebijakan PCR kembali.

"Kemaren kita sempat bernafas lega ketika syarat masuk Belitung tanpa PCR sekarang nafas kita sesak lagi. Karena penumpang sepi." Ujarnya sambil garuk- garuk kepala padahal tidak gatal.

Berkaitan dengan masalah PCR ini sudah selayaknya pihak pemerintah bertindak cepat untuk mencari solusi. Jika tidak ingin sektor pariwisata mati.

Berdasarkan informasi yang berhasil di himpun Sarwa di lapangan mahal tes PCR di Belitung di karenakan hasil pemeriksaan yang di lakukan harus di kirim keluar daerah.

Bangka atau Jakarta. Sehingga muncul biaya tambahan untuk pengiriman dan pemeriksaan labor. Jadi walaupun presiden secara tegas mengatakan tentang biaya PCR berikut ambang batas harga. Perintah tersebut sampai kapanpun tidak akan berlaku untuk Belitung.

Kecuali ada satu jalan. Pihak pemerintah mempunyai Labor sendiri. Misalnya di buatkan di RSUD karena jika berharap kepada pihak swasta tetap akan ada biaya tambahan sebab barometer swasta adalah Profit.

Hayo bapak pemerintah buatkan lah labor. Jangan berpikir panjang lagi jangan ragu! apalagi mau itung-itungan untung apa tidak baru mau bangun Labor sebab hanya inilah satu-satunya jalan biar biaya PCR bisa murah dan efeknya pasti sangat luar biasa untuk negri kita ini begitu juga buat masyarakat. Bangun Labor kan tidak butuh dana Triliunan kan Pak? (One)

Form Komentar
Komentar Anda